saya menulis untuk diri sendiri, yang tak lagi nyenyak tidur malam, yang tak lagi bergegas meninggalkan sajadah, yang tak lagi mengatakan bahwa saya sulit menangis.

***

orang lain tidak pernah benar-benar paham tentang (diri) kita karena (diri) kita sendiri tidak cukup paham siapa (diri) kita.

coba saya tanya pada anda, seberapa anda mengerti tentang diri anda? bahkan saat anda menggenggam pena dan kertas, kemudian seorang meminta anda mendeskripsikan siapa anda, tertatih-tatih pasti pena anda seret.

dan hidup adalah saran untuk menjadi, apa yang kita pikir mengenai bentuk ideal diri kita. maka seorang wahib pun mengatakan bahwa ia bukan wahib, tapi mewahib. 

tambah tertatih ketika sadar bahwa ada kesadaran palsu yang terus menerus direproduksi. semua orang dan institus menggadang-gadang apa yang terbaik, apa yang seharusnya. maka semakin dilemalah kita. 

yang kita ambil sekarang ini benarkah yang kita pikir benar? ataukah sekedar pelarian dari satu ide yang telah membuat kita kecewa berat, hingga secepat kilat kita berlari ke titik lain untuk menghindarinya. adilkah? lebih dilema lagi.

***    

bergerak.

bertumbuh.

(menjadi) berbeda.

saya adalah saya hari ini. dan tidak pernah tahu besok akan jadi apa. lebih baikkah? lebih burukkah? begitu ketatkah? melewati bataskah? saya hanya bisa belajar dan mengisinya dengan doa. 

***

jika saya punya kuasa dan bisa sulap (kilat) saya ingin diri yang semakin pintar dan semakin mendekat pada Tuhan. seperti satu surat dalam Al Qur’an yang saya sukai (sekali), Al ‘Alaq (dan akan saya minta untuk mahar nikah<-ngerusak). Ia awali dengan perintah belajar (membaca), Ia akhiri dengan perintah bersujud.

About these ads