satu dua tiga cerita.

oke.

 

empat lima enam.

pilih diam.

 

silahkan silahkan jika ingin terus memeluk mesra kesedihan.

 

kepada tuan yang terhormat!

tuan memang tak angkat belati untuk tikam punggung saya

juga tak kokang senjata api untuk lubangi kepala saya

tapi tuan muntahkan kata digdaya untuk cekik leher saya.

ini kegiatan kayaknya ramai-ramai dibicarakan orang di dunia blogging dan sekitarnya. ajakannya seru juga sih, menjadikan menulis sebagai aktivitas keseharian. kalau dipikir menulis itu memang terapi juga sih. dan gue mau ikutan!!! tapi ini udah tanggal 4. telat dong ya? dalam aturan main yg gue bikin, ini boleh dijamak kaya shalat atau bayar utang kaya puasa. 

well yang penting adalah tekad dan tentu saja aksi, biar gak omdo. so kita mulai nanti malam ya :)

1.

Manusia tidak rasional. Kalaupun mau dikatakan sebagai makhluk rasional, satu hal, manusia harus mengakui bahwa berpikir rasional berarti mengamini irasionalitas di dalamnya. Fix! Semakin mereka terikat satu sama lain, semakin emosional mereka. Secara nyata gambaran ini terlihat pada relasi orang tua dan anak, relasi pertemanan, relasi persahabatan, relasi lawan jenis, atau relasi kelompok – sebut saja tawuran, antarsekolah, antar-gank, antarkampung, antaragama, antarpendukung partai politik. Semua menunjukkan bahwa manusia makhluk yang mengedepankan emosi. Read the rest of this entry »

Bila aku sering dikasari,

maka aku belajar berkelahi

 

Bila aku sering dikritik,

maka aku belajar mengumpat

 

Bila aku sering dipermalukan,

maka aku merasa bersalah

 

Bila aku sering dimaklumi,

maka aku belajar bersabar

 

Bila aku sering diberi semangat,

maka aku belajar menghargai

 

Bila aku mendapat hakku,

maka aku sering bertindak adil

 

Bila aku sering merasa aman,

maka aku belajar percaya

 

Bila aku sering mendapat pujian,

maka aku belajar menyukai diriku

 

Bila aku diterima dan diakrabi,

maka aku menemui cinta dari kedua orang tua

 

repost from we.em