“ini gila sekali bukan?”
“maksudnya apa ya?”
“langkahnya tertahan hanya karena sebuah cerita yang bahkan ia sendiri tak pernah benar-benar tau, ditulis untuk dia kah… Petunia kah… Adenium kah…
Atau barang kali Dandelion..
yang tumbuh serampangan…yang kita temui di pinggir jalan.”
“saya masih tak mengerti.”
“ini soal teman kamu! Yang datang berkawan pilu.”
“Pilu(s) Garuda! Hahahah…,” masih bergurau. “Siapa yang kamu maksud?”
“dia! Yang sore hari mukanya biru karena cemburu.”
“oh,” lirih. “lalu?”
“biarkan dopamine-nya ‘mengering’. Itu saja.”
“tidak bisa diakali saja? atau dikadali?”
“…..,” menggeleng.
Comments